Arsip

Archive for September 4, 2012

Bilakah Amalan Bernilai Tinggi ? (Sebuah Renungan Tentang Keutamaan Ittiba’ Ar-Rasul)

 Ustadz Abu Hamid Fauzi Isnaini

Sebagian orang beranggapan bahwa besarnya pahala dari amal tergantung dari kepayahan dan penderitaan. Anggapan ini sebenarnya tidak tepat seratus persen. Perlu dikaji lebih mendalam dan diluruskan, sehingga ungkapannya lebih tepat dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Kenyataanya, anggapan di atas seringkali dijadikan dalil oleh berbagai kelompok untuk mengesahkan berbagai lelaku ‘kerahiban’ dan berbagai amalan-amalan bid’ah yang tidak disyariatkan oleh Alloh dan Rasul-Nya. Mirip dengan perilaku orang-orang musyrik. Mereka haramkan apa yang halal dan thayyib menurut Alloh. Juga mirip dengan sikap “kebangeten” dan “kebablasan” dalam beragama yang dicela oleh Nabi Shallallohu’alaihi wasallam.

Tatkala Nabi melarang puasa wishol, ternyata ada sebagian dari umat beliau yang tetap nekat melakukannya. Mereka beralasan ingin meniru Nabi yang berpuasa wishol. Padahal Nabi telah menjelaskan bahwa puasa ini kekhususan bagi beliau saja. Puasa wishol yaitu menyambung puasa dengan puasa hari berikutnya tanpa diputus dengan buka puasa dan makan sahur. Beliau kuat melakukan puasa wishol ini karena diberi kekuatan dan kecintaan yang luar biasa dalam beribadah. Rasa lapar dan haus saat berpuasa hilang, kalah dengan kelezatan beliau dalam beribadah kepada Alloh. Ketika menyelisihi sabda Nabi, maka Nabi marah dan mengatakan : “Celakalah mereka yang berlebih-lebihan dalam beragama (baca : tidak merasa cukup dengan tuntunan Nabi). Seandainya saja bulan ramadhan ini masih diperpanjang lagi untukku, aku akan teruskan puasa wisholku.”

Kisah pertama ini menyimpulkan bahwa pahala suatu ibadah tidaklah tergantung dari capek dan payahnya.

Masih ingat dengan kisah Abu Isro’il ? Ia adalah salah seorang shahabat Nabi. Disebutkan dalam shahih bukhari bahwa Ia bernadzar untuk puasa menahan makan minum, dan selama puasa itu ia akan berdiri, tidak akan berteduh, diam tak akan ngomong. Nabi bersabda : suruh dia untuk duduk dan bicara serta berteduh jika kepanasan, lalu hendaklah ia tetap memenuhi nadzarnya.

Semakin jelas bukan ? ya, kita makin mantap bahwa pahala suatu ibadah tidak tergantung dari bagaimana penderitaan dan rasa capek saat menjalaninya. Namun pahala itu tergantung dengan kadar ketaatan. Bisa jadi sebuah ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya begitu mudah dilakukan, ternyata membuahkan pahala yang melimpah. Seperti sebuah bacaan dzikir yang Alloh anugerahkan kepada segenap kaum muslimin. Amalan ringan tapi berat di timbangan.

Seperti yang disebutkan oleh Al Imam Al Bukhari, sebuah hadits dengan sanadnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah n bersabda :

كلمتان خفيفتان على اللسان ثقيلتان في الميزان حبيبتان إلى الرحمان سبحان الله العظيم سبحان الله وبحمده

Dua kalimat, ringan bagi lisan, berat pada mizan, dicintai oleh Ar Rahman : “Subhanallahil ‘Azhim. Subhanallahi wa bihamdihi”. (Maha Suci Alloh Yang Maha Agung. Maha Suci Alloh dan aku memuji-Nya. “

Hadits ini juga disebutkan oleh Al Imam Muslim dalam shahihnya, At Tirmidzy, An Nasai`, dan Ibnu Majah.

Semata-mata payah dan capek, itu bukanlah sebab yang membuat amalan semakin berbobot.

Namun demikian, ada suatu amalan yang mulia memang menuntut kepayahan. Maka dengan kesabaran menjalani amalan yang memayahkan ini semakin besar pahalanya. Orang yang berhaji dari tempat yang jauh pahalanya lebih besar daripada pahala berhaji dari tempat yang dekat. Oleh sebab itu Nabi berkata kepada Aisyah saat umroh, ” pahala yang akan engkau raih tergantung dari kadar kepayahanmu. “

Begitupula sabda Nabi tentang orang yang masih dalam taraf belajar, terbata-bata membaca Al Quran. Maka kata beliau, baginya dua pahala. Dua contoh amalan ini, jika kita amati, “capek dan payah” bukanlah sesuatu yang diburu. Namun kepayahan  itu tak lain merupakan konsekwensi yang tidak bisa dihindari.

Itulah ajaran agama kita yang memang penuh dengan kemudahan.  Tidak seperti syariat agama terdahulu, dimana rasa payah dan derita dalam ibadah merupakan sesuatu yang juga dituntut.

Banyak kalangan manusia menilai bahwa rasa payah dan derita itu adalah salah satu bentuk pendekatan diri yang perlu dicari, sebab dengan penderitaan itulah, jiwa akan cenderung meninggalkan kelezatan dan mengikis kecondongan kepada dunia. yang seperti ini mirip dengan model zuhudnya para animis, seperti orang hindu, budha dan yang mirip mereka dari kalangan nasrani. Oleh sebab itu kita banyak mendengar bahwa mereka bersengaja menjalani beragam amalan “lelaku” dengan susah payah dan menahan penderitaan agar mendapat untung besar. padahal secara hitung-hitungan, faedahnya nggak seberapa apalagi dibandingkan dengan dosa yang ditorehkannya dengan amalan-amalan ini?

Semisal dengan bab ini adalah anggapan baik bagi lelaki yang hidup membujang, atau tidak pernah makan daging, atau terus menerus berpuasa. Nabi bersabda : “bahkan aku berpuasa dan berbuka, aku menikahi wanita,dan akupun makan daging. Barang siapa tidak suka dengan sunnah ku maka ia bukan golonganku. Semoga Alloh menjaga kita agar senantiasa kokoh di atas Islam dan sunnah.

 

 

 

Kategori:Aqidah Shahihah