Arsip

Archive for September 8, 2012

Doa Untuk Muzakky – Adakah Doa Untuk Pembayar Zakat ?

Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

عن عبد الله بن أبي أوفى t قال: كان رسول الله r، إذا أتاه قوم بصدقتهم،قال: “اللهم ! صل عليهم” فأتاه أبي – أبو أوفى – بصدقته، فقال: “اللهم ! صل على آل أبي أوفى”.

Dari Abdullah binAbi Aufa t berkata: Rasulullah r, bila datang kepada beliau satu kaum menunaikan zakatnya, beliau berdoa: “Ya Allah, berilah ampunan atas mereka.” Hingga datanglah  ayahku –Abu Aufa- dengan membawa zakat, Rasulullah r pun berdoa: “Ya Allah, berilah ampunan atas Abi Aufa..”

Takhrij Hadits:

Hadits ini Muttafaqun ‘alaihi, disepakati keshahihannya oleh Syaikhan.

Al-Bukhari mengeluarkan dalam Shahih-nya Bab Shalatul Imam Wa du’auhu lishahibish-Shadaqah (Bab Imam bershalawat dan mendoakan orang yang bersedekah) no.1497, juga beliau riwayatkan dalam At-Tarikh Al-Kabir (3/1/24). Adapun Muslim, beliau keluarkan dalam Shahih-nya (2/756 no.1078).

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud (no.1590), An-Nasa’i (5/31), Ibnu Majah (no.1796), At-thayalisi (no. 819), Ahmad (4/353, 355, 381, 383), At-Thahawi dalam Musykilul Atsar (4/162) dan lainnya melalui banyak jalan dari Syu’bah bin Hajjaj dari ‘Amr bin Murrah dari Abdullah bin Abi Aufa t.

Abdullah bin Abi Aufa t dan ayahnya Abu Aufa  – Alqomah bin khalid Al-Harits Al-Aslamy t – keduanya shahabat Rasulullah r yang menyaksikan perjanjian Hudaibiyyah (6 H) dan berbaiat kepada Rasulullah r saat itu pada bai’at Ridhwan. Keutamaan bai’at ridhwan pun keduanya peroleh berupa keridhoan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِالْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيقُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًاقَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Al-Fath:18

Bahkan Rasulullah r mengabarkan keselamatan ahli bai’at ridhwan dari neraka seperti dalam sabdanya:

لا يدخل النار، إن شاء الله، من أصحاب الشجرة، أحد الذين بايعوا تحتها

Tidak akan masuk ke dalam neraka –insyaallah- seorangpun dari shahabat-shahabat yang berbaiat (kepada Rasulullah r) di bawah pohon (yakni bai’at ridhwan) Shahih Muslim (4/1942 no. 2496)

Abdullah bin Abi Aufa t meninggal pada tahun 87 H, tujuh puluh enam tahun setelah wafatnya Rasulullah r, dan beliau tercatat sebagai shahabat terakhir yang meninggal di Kufah. (Lihat At-Taqrib)

Makna Hadits

Doa Rasulullah r kepada Abu Aufa t :

اللهم صل على آل أبي أوفى.

“Ya Allah, berilah ampunan atas Abi Aufa.”

Adalah dalil disyareatkannya doa bagi muzakky ketika ia keluarkan zakatnya.[1] Shalawat Rasulullah r dalam doa ini mengandung makna permohonan ampun kepada Allah bagi Abu Aufa t.

Al-Khaththabi  –sebagaimana dinukil Ash-Shon’ani- berkata: “Shalat (Shalawat),  makna asalnya adalah do’a, namun ia memiliki kandungan makna berbeda sesuai dengan siapa orang yang didoakan. Shalawat nabi r atas ummatnya bermakna doa agar Allah memberikan ampunan atas mereka, adapun shalawat ummatnya atas beliau r maknanya permohonan kepada Allah untuk beliau kedekatan yang sangat kepada Allah oleh karena itu, (makna ini) tidak layak kecuali untuk beliau r(Subulus salam (2/130)

Atas dasar hadits inilah disyareatkan bagi Imam, wakilnya atau penerima zakat untuk mendoakan muzakky ketika memberikan zakatnya.  Doa ini sesungguhnya merupakan bentuk syukur (terima kasih) atas kebaikan yang sampai melalui tangan muzakky.

Hadits ini juga menunjukkan bolehnya seorang datang sendiri menuju imam menyerahkan zakatnya tanpa harus didatangi imam atau yang mewakilinya. Berkata Al-Bassam rahimahullah: “Sesungguhnya penyerahan zakat kepada waliyyu amril muslimin (khalifah/pemerintah) terkadang terwujud dengan diutusnya petugas pengambil zakat yang mendatangi tempat penggembalaan dan kebun-kebun mereka atau muzakky sendiri yang datang kepada (waliyul amr) (sebagaimana dalam hadits Ibnu Abi Aufa t), semua ini boleh. Taudhihul Ahkam  (3/42).

Shalawat untuk Muzakky ?

Shalawat untuk selain Rasulullah r, bolehkah ? Dalam doa Rasulullah r ada shalawat untuk Abu Aufa t, apakah kita juga ucapkan shalawat bagi muzakky ?.

Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.  Berkata An-Nawawi: “… Adapun ucapan As-Sa’i (petugas pengambil zakat) : “Allahumma Shalli ‘ala Fulan.”  Jumhur ulama syafi’iyyah memakruhkannya, dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas t, Malik, Ibnu ‘Uyainah dan sekelompok salaf. Sementara sekelompok ulama lainnya berpendapat: hal itu diperbolehkan tanpa ada kemakruhan sama sekali berdasar hadits ini (yakni hadits Abdullah bin Abi Aufa t)….” Al-Minhaj

Masalah ini dijawab Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Jala`ul Afham. Beliau berkata: “Dan sebagai pemutus perkara dalam masalah ini (kita katakan), bahwa shalawat kepada selain Nabi r bisa jadi ditujukan bagi keluarga beliau, istri-istri  atau keturunan beliau atau (ditujukan kepada) selain mereka.

Jika shalawat itu ditujukan (kepada keluarga Rasulullah r, istri-istri  dan keturunan beliau) maka shalawat atas mereka disyareatkan, digandengkan bersama shalawat atas Nabi r.[2]

Adapun kedua (yakni shalawat yang ditujukan selain istri dan keluarga nabi), jika mereka (yang dimaksud) adalah malaikat dan ahli taat secara umum, dimana para nabi dan selain mereka juga masuk dalam keumuman tersebut maka boleh juga bershalawat atas mereka seperti ucapan:

اللهم صل على ملائكتك المقربين و أهل طاعتك أجمعين

“Ya Allah berilah shalawat kepada malaikat-malaikat muqorrobin dan hamba-hamba-Mu yang taat seluruhnya.”

Akan tetapi jika shalawat tertuju hanya pada orang tertentu atau sekelompok tertentu,[3] maka hal ini dibenci, bahkan kalau dikatakan hal itu haram tentu ada sisi kebenarannya – terlebih jika hal tersebut dijadikan sebagai syi’ar khusus untuk orang tersebut dan tidak boleh diberikan kepada selainnya yang berkedudukan sama atau bahkan lebih baik darinya sebagaimana ini dilakukan Rafidhah (syi’ah) terhadap Ali t.[4] Adapun jika shalawat (yang ditujukan pada orang tertentu itu) dilakukan terkadang –dan tidak dijadikan sebagai syi’ar- sebagaimana Rasulullah r bershalawat atas orang yang membayar Zakat, dan beliau pernah bershalawat kepada seorang wanita dan suaminya, sebagaimana pula Ali t pernah bershalawat atas Umar t maka yang seperti ini tidak mengapa. (Jala`ul Afham hal. 352).

Shalawat Rasul kepada seorang wanita dan suaminya diriwayatkan Abu Dawud dari shahabat Jabir bin Abdillah t, beliau berkata:

أن امرأة قالت للنبي r :”صلِّ عليَّ وعلى زوجي”، فقال النبي r : “صلى اللّه عليك وعلى زوجك”.

Seorang wanita berkata kepada Nabi r: “Bershalawatlah untukku dan untuk suamiku. Maka Nabi r berkata:

صلى اللّه عليكِ وعلى زوجك.

Semoga Allah memberi ampunan atas engkau dan suamimu. (Diriwayatkan Abu Dawud dalam As-Sunan no.1533  dengan sanad yang shahih, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud. )

Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafidhahullah : “… boleh bershalawat untuk selain Nabi r …. namun kebolehan itu dibatasi selama tidak memperbanyak (sering) dalam bershalawat pada selain nabi, dan selama tidak menyerupai pengikut hawa nafsu yang mengkhususkan shalawat bagi (tokoh) yang mereka agungkan, atau mengkhususkan shalawat untuk sebagian shahabat tanpa shahabat lainnya. Dalam tafsir surat Al-Ahzab.

إِنَّ اللَّهَوَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.” (Al-Ahzab:56)

Ibnu Katsir berkata dalam Tafsir-nya: “Adapun apa yang tertera dalam sebagian kitab-kitab berupa penulisan (عليه السلام) ketika disebut sahabat Ali t (secara khusus) ini dilakukan oleh  nussakh (para penyadur kitab-kitab) dan bukan amalan penulis asli kitab-kitab tersebut karena diantara jalan salaf adalah tidak membeda-bedakan kan para shahabat , dan yang masyhur pada salaf adalah bershalawat untuk para nabi, mendoakan keridhoan pada para shahabat, dan mendoakan rahmat untuk orang-orang sesudah shahabat. (Syarh Kitab Adabul Masyi ilash-Shalah hal. 45-46)

Alhasil, doa Rasulullah r dengan bentuk shalawat untuk muzakky disyareatkan dengan dalil hadits Ibnu Abi Aufa t. Wallahuta’ala a’lam.

 

Hukum Mendoakan Muzakky

Doa Rasulullah r bagi Muzakky yang beliau lafadzkan dalam hadits Abdullah bin Abi Aufa t sesungguhnya adalah pengamalan beliau terhadap perintah Allah dalam firman-Nya:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْصَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَسَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. At-Taubah:103

Apa hukum mendoakan muzakky, wajibkah sebagaimana dzahir perintah dalam ayat atau mustahab? Al-Baghawi rahimahullah (516 H) dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzil, menukil adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini. Kata beliau: “Ulama berselisih pendapat tentang wajibnya imam mendoakan (muzakky) ketika mengambil zakat(nya). Sebagian berkata: wajib, sebagian lainnya berkata sunnah, sebagian mereka mewajibkannya pada sedekah yang wajib dan menganggapnya sunnah pada sedekah tathawwu’, sebagian lagi berpendapat: wajib atas imam adapun fuqoro yang menerima zakat hukumnya sunnah (mendoakan) bagi yang memberikan. Tafsir Al-Baghawy (2/323)

Jumhur ulama berpendapat bahwa doa tersebut hukumnya mustahab (sunnah). Berkata An-Nawawi rahimahullah: “Dan yang masyhur dalam madzhab kami (syafi’iyah) demikian pula madzhab ulama seluruhnya bahwasannya mendoakan orang yang membayar zakatnya adalah sunnah dan tidak wajib. Lain halnya dengan ahli dzahir. Mereka berkata: “ (Mendoakan Muzakky hukumnya) Wajib.” … mereka bersandar pada perintah dalam ayat.

(Menanggapi pendapat ahli dzahir) jumhur berkata: “Perintah (dalam ayat ini) menurut kami adalah sunnah –dengan alasan- bahwa Nabi r ketika mengutus Muadz bin Jabal t dan selainnya untuk mengambil zakat beliau tidak perintahkan mereka untuk mendoakan (orang yang berzakat) …. (Al-Minhaj)

Pendapat jumhur adalah pendapat yang rajih insyaallah, demikian dzahir perkataan Asy-syaukani dalam Nailul Athar, dan Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir As-Si’dy dalam Tafsir beliau pada ayat At-Taubah.

Berkata As-Si’dy:  “…. Dalam ayat ini (ada faedah) disunnahkannya bagi imam atau wakilnya untuk mendoakan barakah bagi yang membayar zakatnya, dan seyogyanya doa itu dikeraskan agar didengar orang yang bersedekah sehingga dia tentram dengan doa tersebut. Dari makna ayat, juga diambil faedah sepantasnya seorang mukmin berusaha membahagiakan saudaranya dengan perkataan yang lembut, mendoakan kebaikan untuknya atau (dengan yang) semisal itu dari perkara yang mendatangkan ketenangan dan ketentraman hatinya. Taisir Karimir rahman (3/293)

Apakah lafadz doa harus dalam bentuk shalawat?

Sesungguhnya lafadz doa tersebut tidak harus dalam bentuk shalawat. Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah: “Orang yang mengambil zakat hendaknya mengucapkan: “Allahumma sholli ‘alaika.”atau dengan doa (lain) yang dilihat sesuai; karena Allah berfirman kepada nabi-Nya r:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْصَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. At-Taubah : 3 (lihat Syarhul Mumti’ (6/208).

An-Nasa’i dalam Al-Mujtaba (5/30) meriwayatkan dari Wa`il bin Hujr t bahwa Rasulullah r mendoakan barokah kepada seorang yang datang kepada beliau dengan membawa seekor onta zakat yang baik.

عن وائل بن حجر t أن النبي r بعث ساعيا فأتى رجلا فأتاه فصيلا مخلولا فقال النبي r : (( بعثنا مصدق الله ورسوله وان فلانا أعطاه فصيلا مخلولا اللهم لا تبارك فيه ولافي إبله )) فبلغ ذلك الرجل فجاء بناقة حسناء فقال : أتوب إلى الله عز وجل وإلى نبيه r فقال النبي r : (( اللهم بارك فيه وفي ابله ))

“Dari Wa`il bin Hujr t. Nabi r mengutus seorang Sa’i (utusan untuk mengambil zakat) hingga ia datangi seorang (untuk mengambil zakatnya) tetapi dia keluarkan onta sapihan yang sangat kurus. (ketika Nabi r mengetahuinya) beliau bersabda: “Aku mengutus seorang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya (untuk mengambil zakat) tapi fulan memberikan onta sapihan kurus (yang tidak pantas untuk zakat), Ya Allah jangan engkau berkahi dia dan jangan Engkau berkahi ontanya. Sampailah doa ini kepada lelaki itu. Bergegas ia datang membawa seekor onta yang baik seraya berkata: Aku bertaubat kepada Allah dan kembali kepada Nabi-Nya r. Ketika itu beliau berdoa: “Ya Allah Berkahilah ia dan ontanya.”

Dari riwayat tersebut diambil faedah bahwa do’a untuk muzakky tidaklah harus dalam bentuk shalawat. [5]

Membalas Kebaikan

Membalas kebaikan orang lain meskipun dengan doa adalah akhlak terpuji, akhlak ini tampak dalam hadits Abdullah bin Abi Aufa t.

Sebagaimana akhlak ini juga dituntunkan Rasulullah r dalam sabdanya yang masyhur:

ومن صنع إليكم معروفاً فكافئوه، فإن لم تجدوا ما تكافئونه فادعوا له حتى ترون أنكم قد كافأتموه

Dan orang yang berbuat baik padamu, maka imbangilah kebaikannya. Jika kamu tidak mampu mengimbangi kebaikannya maka berdoalah kebaikan untuknya hingga engkau merasa telah membalas kebaikannya. (Hadits Shahih riwayat Abu Dawud dan An-Nasa`i dalam Sunan keduanya dari shahabat Abdullah bin Umar t)

Dalam hadits ini Nabi r memerintahkan kita untuk membalas kebaikan-kebaikan dengan kebaikan yang seimbang. Perangai seperti ini menunjukkan baiknya  agama, akhlak dan muru`ah (harga diri) seseorang.  Berbeda jika seorang tidak memiliki perangai tersebut, (tidak ada niat untuk membalas kebaikan saudaranya) maka ia dikatakan la’im. (tidak tau balas budi/kikir). Lebih jelek dari itu, di antara manusia ada yang membalas kebaikan dengan kejelekan, sebagaimana dikatakan dalam pepatah negeri ini: “Air susu dibalas dengan air tuba.”

Adapun orang yang bertaqwa, maka mereka selalu membalas kebaikan dengan kebaikan yang semisal atau lebih. Dan jika diperlakukan jelek maka ia balas dengan kebaikan. Sebagaimana firman Allah :

ادفع بالتي هي أحسن السيئة نحن أعلم بما يصفون

Balaslah kejelekan dengan yang lebih baik. Kami  mengetahui apa yang mereka sifatkan.

Membalas kebaikan orang lain sangat erat kaitannya dengan tauhid. Manusia yang beriman, yang bergantung dan beribadah hanya kepada Allah  meyakini bahwa semua kebaikan yang dia dapatkan adalah dari Allah, sehingga ia dituntut untuk bersyukur kepada-Nya dengan lisan, anggota badan, dan juga dengan hati.  Jika ada seseorang berbuat baik kepadanya, apakah dalam bentuk bantuan harta, tenaga atau pikiran, terkadang ada kecondongan dalam hati kepada orang yang berbuat baik tersebut. Oleh sebab itu, agar ketergantungan kepada makhluk hilang, dan selalu murni untuk Allah ta’ala, Nabi r mensyariatkan supaya kebaikan orang tersebut dibalas dengan yang sebanding. Jika  tidak bisa kau balas dengan pemberian maka disyareatkan berdoa untuk kebaikannya hingga engkau merasa telah membalas kebaikannya. Dengan doa, engkau telah mengalihkan niatanmu untuk membalas kebaikan itu kepada Allah, Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas kebaikan.

Apa Yang Diucapkan Muzakky? Baca selengkapnya…