Arsip

Archive for Desember, 2012

Fakta Kesesatan Agama Syiah Rafidhah Bag.1 (Celaan Kepada Shahabat dan Ibunda Kaum Mukminin)

Abu Sulaiman Hammad Al-Ghazy Lc

Ahlussunnah meyakini bahwa shahabat adalah generasi terbaik sebagaimana sabda Rasulullah saw (Khoirunnasi Qarni Tsummalladzina yalunahum Tsumma ladzina yalunahum) – sebaik-baik generasi adalah generasiku (shahabat) kemudian generasi berikutnya(tabi’in) kemudian generasi berikutnya (atbaut tabiin)

Mereka adalah kaum yang telah menyertai rasulullah saw dalam menegakkan kalimat Allah di muka bumi, darah mereka korbankan untuk Allah ta’ala. Allah pun telah meridhoi mereka. Oleh karena itu Rasulullah saw mewanti-wanti umat beliau dari mencela shahabat-shahabatnya (Laa Tasubbu Ashhabi): Jangan kalian mencaci maki shahabat-shahabatku

beliau bahkan telah menyebutkan bahwa membenci anshor adalah tanda kemunafikan, sebaliknya mencintai Shahabat Anshor adalah tanda keimanan. (Ayatul Iman hubbul Anshor wa ayatun nifaq bughdhul anshor).Tanda keimanan adalah mencintai shahabat Anshor dan tanda kemunafikan adalah membenci shahabat anshor

Adapun Syiah Rafidhah, maka mulut mereka dipenuhi caci maki kepada generasi terbaik. Syiah mengkafirkan parashahabat nabi dan semua orang islam yang mengikuti shahabat nabi. Sungguh dalam hal ini yahudi dan nasrani lebih baik dari rafidhah, karena ketika Yahudi dan Nasrani ditanya siapa manusia terbaik di sisi kalian pastilah mereka mengatakan: Shahabat-shahabat Musa dan shahabat-shahabat Isa. Namun Rafidhah ketika ditanya siapa manusia terburuk? mereka mengatakan shahabat-shahabat Rasulullah.

Dengan tanpa malu, mereka kafirkan shahabat yang telah pasti mendapatkan jaminan jannah, sepuluh yang dijamin jannah mereka kafirkan kecuali Ali bin Abi Thalib.

Istri-istri Rasulullah mereka juluki sebagai para pezina, Na’udzu billahi min dzalik. Demi Allah mulit anjing lebih suci dari mulut rafidhah.

Diriwayatkan oleh Al-Kisysyi “imam al-jarh wat ta’dil” dari Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir) bahwa ia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata, “Siapakah tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat ke-144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.Ali Imran144. (Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13)Dinukil dari asy-Syi’ah al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” [al-Kafi, 8/248, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya Ihsan Ilahi Zhahir]

Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir al-Husaini al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 46)

Adapun sahabat Abu Bakr dan ‘Umar , dua manusia terbaik setelah Rasulullah, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka….”[1]. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18, karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib).

Tentang Ustman bin Affan, mereka kafirkan beliau dan sekian banyak tuduhan keji diarahkan kepada beliau. Termasuk tuduhan bahwasannay Utsman bin Affan telah membunuh istri beliau sendiri, Ruqayyah yang tidak lain adalah putri Rasulullah saw. (Aujazul Khithob Fi Bayani Mauqif Asy-Syi’ah minal Ash-hab h.94 karya Abu Muhammad Al-Husaini)

Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ah al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan, kesucian, hari barakah, serta hari sukaria. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18)

Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah  lainnya, mereka yakini sebagai pelacur—na’udzu billah min dzalik—. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hlm. 57—60) karya ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin ‘Abbas  terhadap ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah….” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hlm. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas  berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi  namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad) adalah seorang yang jahat. Karena, kalau memang ia orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hlm. 580).


[1] Yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah

Kategori:Uncategorized