Beranda > Uncategorized > ULAMA KIBAR – berjalan bersama bimbingan Mereka

ULAMA KIBAR – berjalan bersama bimbingan Mereka

Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu Rasulullah Shalallallohu’alaihi wasallam bersabda:

البركَةُ مَعَ أَكَابِرِكُم

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (2/319 no.559), Ath-Thabarani dalam Al-Ausath (9/16 no 8991), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/131 no 210), berkata Al-Hakim: Shahih menurut syarat Al-Bukhari, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/171), Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (7/463 no.11004), Al-Khothib (11/165), Al-Qudho’i (1/57 no.36), dari Shahabat Abdullah bin Abbas Ra.

Berkata Al-Haitsami (8/15): Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Aththabarani dalam Al-Ausath. Dalam sanad Al-Bazzar ada seorang bernama Nu’aim bin Hammad, sejumlah ulama menilainya tsiqah, namun di dalamnya ada kelemahan, adapun perawi lainnya adalah para perawi shahih.

Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami dan Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah.

 

Makna Hadits

Al-Barakah (اَلْبَرَكَة) –dengan huruf ba’ yang difathah-  secara bahasa mengandung makna: (النماء) tumbuh, ( الزيادة ) bertambah dan (السعادة) kebahagiaan.[1]

Barakah juga mengandung makna “tetap atau langgeng” sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Atsir rahimahullah ketika beliau menjelaskan makna barakah dalam shalawat Ibrahimiyyah  (بارك على محمد): “Berkahilah atas Nabi Muhammad”

Ibnu Atsir berkata: “maknanya “Ya Allah Tetapkan dan kekalkanlah apa yang Engkau telah anugerahkan kepada beliau berupa kemuliaan dan ketinggian.”

Makna ini terambil dari perkataan orang Arab: (برك البعير) Onta itu mendekam, yakni menetapi tempat tersebut….[2]

Al-Barakah diambil pula dari kata Al-Birkah ( اَلْبِرْكَة) –dengan huruf ba’ yang dikasroh- yang artinya ( مَجْمَعُ الْمَاء ) tempat tergenangnya air (kolam), tempat seperti ini memiliki keistimewaan: airnya banyak dan terkumpul (tetap).

Dari beberapa penjelasan di atas, mungkin kita simpulkan bahwasannya Barakah adalah: Kebaikan yang banyak, kebaikan yang sesantiasa tumbuh, bertambah, dan diiringi dengan tetap atau langgengnya kebaikan tersebut, baik pada harta, anak, ilmu, waktu atau yang lain. Allahua’lam.

 

Siapakah Akabir ?

Al-Munawi dalam Al-Faidhul Qadir menjelaskan makna Hadits, beliau berkata:

(البركة مع أكابركم) المجربين للأمور المحافظين على تكثير الأجور فجالسوهم لتقتدوا برأيهم وتهتدوا بهديهم أو المراد من له منصب العلم وإن صغر سنه فيجب إجلالهم حفظا لحرمة ما منحهم الحق سبحانه وتعالى وقال شارح الشهاب : هذا حث على طلب البركة في الأمور والتبحبح في الحاجات بمراجعة الأكابر لما خصوا به من سبق الوجود وتجربة الأمور وسالف عبادة المعبود قال تعالى * (قال كبيهم) * وكان في يد المصطفى صلى الله عليه وسلم سواك فأراد أن يعطيه بعض من حضر فقال جبريل عليه السلام : كبر كبر فأعطاه الأكبر وقد يكون الكبير في العلم أو الدين فيقدم على من هو أسن

Subhanallah, sesungguhnya sangat banyak sisi yang menunjukkan hikmah dibalik sabda Rasulullah saw untuk kita kembali kepada akabir. Diantara alasan dan hikmahnya Allahua’lam;

Akabir adalah orang-orang yang telah memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi berbagai permasalahan dan fitnah, dalam mengenal beragam manusia dan watak-watak mereka. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut -biidznillah- memudahkan mereka dalam menyelesaikan berbagai macam problema dengan penuh kehati-hatian dan hikmah.

Kalau kita berbicara ilmu ilal Hadits, tidak setiap ulama ahlul hadits mencapai derajat mengenal ilal hadits dengan detail. Ibarat ahli emas, orang akan terheran melihat kelihaian seseorang dalam mengenal emas yang asli dan emas yang palsu.

Demikian pula ilmu hadits, ketika ilmu hadits telah mendarah daging, dan kehidupan mereka selalu dengan hadits-hadits Rasul shalallohu’alaihi wasallam merekapun mencapai derajat mampu membedakan hadits-hadits yang bercacat dan yang selamat dari cacat, diantara mereka seperti Ahmad, Ibnu Abi Hatim, Ad-Daruqutni, Al-Bukhori, Ibnu Ma’in.

Akabir adalah orang-orang yang telah memutih uban-uban mereka dalam beribadah kepada Allah, sehingga mereka memiliki kedekatan kepada Allah dengan berbagai ibadah yang telah mereka lakukan selama ini, sehingga  pantas seandainya mereka mendapatkan kebaikan dan pertolongan Allah dalam langkah-langkah mereka.

Berkata Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili dalam salah satu pelajarannya di Masjid An-Nabawi : “Makna hadits ini, sesungguhnya barakah Allah dan kebaikan ada bersama akabir. Yakni bersama dengan orang-orang yang telah tua umurnya, dari mereka itulah kita mengambil pengalaman hidupnya. Inilah makna kibar yang pertama: Kibarus sinn.

Atau yang dimaksud dengan kibar disini adalah kibarul ‘ilmi orang yang mendalam ilmunya, meskipun dari sisi usia tergolong masih muda.

Dan apabila terkumpul pada seseorang dua sifat ini ilmu yang mendalam dan umur yang tua, maka barakah yang ada lebih besar. Diantara ulama sekarang yang mengumpulkan dua perkara ini, syaikh Abdul Aziz Alu Syeikh, Syeikh Sholih bin Fauzan, Syeikh Robi, Syaikh Ubaid Al-Jabiri.”

 

Dalil-dalil Yang Menunjukkan Keutamaan Akabir.

Banyak dalil menunjukkan diutamakannya orang-orang yang berumur. Diantara dalil tersebut adalah Hadits Malik bin Khuwairits Rasulullah saw bersabda:

عن أبي سليمان؛ مالك بن الحويرث قال: أتينا النبي صلى الله عليه وسلم ونحن شببة متقاربون، فأقمنا عشرين ليلة، فظن أنا اشتهينا أهلينا، فسألنا عن من تركنا في أهلينا؟ فأخبرناه – وكان رفيقاً رحيماً- فقال: “ارجعوا إلى أهليكم فعلموهم ومروهم، وصلوا كما رأيتموني أصلي، فإذا حضرت الصلاة، فليؤذن لكم أحدكم، وليؤمكم أكبركم”.

Dalam hadits juga disebutkan:

إِنَّ مِن إِجلالِ اللهِ إِكرَامَ ذِي الشَّيبَةِ المُسلِمِ وَحَامِلِ القُرآنِ غَيرِ الغَالي فِيهِ ولا الجَافي عَنهُ، وَإِكرَامَ ذِي السُّلطَانِ المُقسِطِ

Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam juga bersabda:

لَيسَ مِنَّا مَن لم يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

 

Diambilnya Ilmu dari Ashoghir

Disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam bersabda:

إن من أشراط الساعة أن يلتمس العلم عند الأصاغر

Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah.

Apakah yang dimaksud dengan Ashogir dalam hadits ini ? Dari penjelasan para ulama, kita dapatkan bahwa maksud dari diambilnya ilmu dari ashoghir diantaranya adalah Ahlul bidda’.

Musa bin Harun, perawi hadits ini berkata, sebagaimana dalam riwayat At-Thabaroni:

يقال إن الأصاغر من أهل البدع

Yang kedua adalah : orang yang jahil, adapun yang ketiga : memilih yang muda sementara ada yang tua dalam ilmu dan umur.

 

Mengambil Ilmu dari Ahlul Bida’

Fenomena mengambil ilmu dari Ahlil bida’ adalah adalah fenomena menyedihkan yang kita saksikan saat ini. Jutaan manusia duduk dan mengitari ahlul bida’. Seperti zaman ini, duduk bersama orang yang mencela jenggot, mencela sunnah Rasulullah saw, bahkan membela kesyirikan dan ahlu Syirik.

Dalam Hadits Huszaifah bin Al-Yaman dalam Shahihain, Rasulullah saw memberi peringatan akan munculnya du’at ila abwabi Jahannam, para dai penyeru dan pengajak ke neraka jahannam. Mereka adalah ahlul bida’.

 

Mengambil Ilmu dari Jahil;

Termasuk ashoghir adalah orang-orang yang jahil dengan ilmu agama. Dan telah shahih juga sabda Rasulullah saw:

إِنَّ بَينَ يَدَيِ السَّاعَةِ سِنِينَ خَدَّاعَةً، يُصَدَّقُ فيها الكاذِبُ، ويُكَذَّبُ فيها الصادِقُ، ويُؤتَمَنُ فيها الخَائِنُ، ويُخَوَّنُ فِيها الأَمِينُ، ويَنطِقُ فيها الرُّوَيبِضَةُ))، قِيلَ: وما الرُّوَيبِضَةُ؟ قال: ((المَرءُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ في أَمرِ العَامَّةِ)).

 

Sungguh benar ucapan orang yang tidak berucap dari hawa nafsunya, betapa banyak manusia berbicara tanpa ilmu, manusia jahil diagungkan dan diangkat menjadi para pemimpin yang diikuti dan diambil fatwa-fatwanya.

Bukan hanya berbicara tanpa ilmu. Bahkan lebih parah lagi mereka membantah para ulama  di mas-mas media dan medsos. Mushibah ini karena Allah mencabut ilmu dengan wafatnya para ulama.

((إِنَّ اللهَ تعالى لا يَقبِضُ العِلمَ انتِزَاعًا يَنتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقبِضُ العِلمَ بِقَبضِ العُلَمَاءِ، حتى إِذَا لم يُبقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفتَوا بِغَيرِ عِلمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا)).

Cobalah perhatikan berbagai fitnah yang terjadi setelah wafatnya para ulama, Asy-Syaikh bin Bazz, Syeikh Al-Albani,Ibnu Utsaimin, Muqbil bin Hadi… sungguh fitnah demi fitna terjadi.

 

Mengutamakan yang muda, padahal ada orang tua.

Seperti apa yang ada di zaman ini, ditengah fitnah yang demikian deras melanda umat, banyak permasalahan-permasalahan yang pelik dan tidak setiap orang berhak berbicara. Permasalahan darah kaum muslimin, seperti jihad dan semisalnya. Demikian pula dalam menghadapi syubhat-syubhat ahlul batil, dan kaedah-kaedah rusak penentang sunnah, yang seringkali sangat samar.

Sebut saja fitnah Quthbiyyah, Sururiyyah, Ihyaut Turots, Abul Hasan Al-Ma’ribi, Falih Al Harbi, Al-Halabi, Yahya Al-Hajuri, dilanjutkan dengan fitnah Al-Imam hingga perang di Yaman, Ibrohim Ar-Ruhaili, Ali Al-Halabi.

Fitnah-fitnah di atas yang telah mencabik-cabik dakwah salafiyyah telah banyak berbicara ulama kibar kita semisal Asy-Syeikh Robi, Syekh Ubeid Al-Jabiri dengan penjelasan yang wadhih. Namun banyak diantara tuwailibil ilmu yang meremehkan kibar dan memilih fatwa-fatwa yang lebih cocok dengan hawa nafsu dan keinginanya.

[1] Lihat : Al-Qamus Al-Muhith (3/293). Makna ini pula yang disebut Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arab (10/395-396)

[2] An-Nihayah Fi Gharibil Hadits (1/120)

Iklan
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: