Arsip

Archive for the ‘Aqidah Shahihah’ Category

DISKUSi TENTANG JIN – referensi penting !

Mendiskusikan jin sebagai salah satu makhluk gaib selalu saja hangat dan mendapat perhatian berbagai kalangan.

Bukan hanya sekedar diskusi, di tengah masyarakat yang jauh dari agama, sekelompok manusia menjadikan “kerjasama dengan jin” sebagai komoditi untuk mengeruk keuntungan, tentu dengan cara yang batil, sebagaimana dilakoni dukun-dukun, paranormal tukang sihir dan tukang santet.

Fenomena kesyirikan, dimana manusia meminta perlindungan dan bekerjasama dengan jin bermunculan seperti Allah kabarkan:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. Al Jin:6

Di Indonesia terlebih tanah jawa, permainan Jailangkung, debus dan kuda lumping sudah sangat terkenal.  Manusia menganggapnya perkara biasa padahal didalamnya terkandung kesyirikan dengan adanya kerjasama dengan jin.

Berbagai macam julukan bagi makhluk-makhluk halus yang menakutkan kerap kali kita dengar dalam perbincangan. Genderuwo, pocong, kuntilanak, tuyul dan berbagai nama lain.

Masing-masing makhluk itu punya karekteristik yang berbeda. Tuyul diyakini sebagai setan berukuran kecil, botak kepala yang biasa “diingu” (pelihara) untuk “kesugihan” (agar kaya), tuyul berkeliaran mencuri harta-harta untuk tuannya yang memelihara.

Masih tentang tuyul, di tengah masyarakat ada keyakinan bahwa untuk menjaga harta dari tuyul cukup meletakkan kepiting di dekat harta, kepiting diikat dengan tali, fungsinya melalaikan tuyul saat akan mencuri. Tuyul  akan lupa pekerjaannya dan sibuk bermain-main dengan kepiting.

Bukan hanya kalangan tua, anak-anak muda juga nimbrung membicarakan alam ini. Kaum kafir pun turut andil memeriahkan diskusi. Di dunia Film orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan jauh dari agama menyuguhkan film-film horror sebagai tontonan-tontonan bertema alam ghaib. Umat pun dijejali akidah batil dan merusak akal.

Sangat kita sayangkan, kebanyakan manusia membicarakan alam lain dengan tanpa pijakan, pembicaraan mereka sungguh telah melampaui batas dan melanggar ketentuan yang telah ditetapkan syareat. Keadaan yang seperti ini menuntut kita, seorang muslim -terlebih ahlus sunnah wal jamaah- untuk memberikan andil dengan menyuguhkan pembahasan-pembahasan tentang makhluk-makhluk di luar alam manusia, tentu berdasar nusus Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf. Harapannya, kaum muslimin kembali kepada wahyu Allah dan berbicara tanpa ilmu.

 

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Al-Isro: 36

 

Al-Quran dan As-Sunnah Pijakan dalam meyakini perkara ghaib.

Sebuah prinsip yang tidak boleh luput dari diri kita, bahwasannya perkara ghaib hanya Allah saja yang mengetahui. Allah ta’ala berfirman:

وَيَقُولُونَ لَوْلاَ أُنزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلّهِ

Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu keterangan (mukjizat) dari Rabbnya?” Maka katakanlah: “Sesungguhnya yang gaib itu kepunyaan Allah;. Yunus: 20

Dalam ayat lain Allah berfirman:

قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. An-Naml: 65

Diantara  perkara ghaib adalah lima kunci-kunci ghaib yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Luqman: 34

Rasulullah bersabda tentang lima perkara tersebut:

مفتاح الغيب خمس لا يعلمها إلا الله

“Kunci-kunci ghaib lima, tidak ada yang megetahuinya kecuali Allah”

Sungguh tidak ada satu makhlukpun mengerti perkara ghaib. Nabi Muhammad saw -rasul paling mulia dari kalangan manusia- demikian pula Jibril As -rasul paling mulia dari kalangan malaikat- keduanya tidak mengerti kapan hari kiamat.

Ketika Jibril datang dalam bentuk manusia yang tidak dikenal, ia bertanya kepada Rasulullah r kapankah hari kiamat ?. Jawaban Rasulullah r ketika itu tidak melebihi dari ucapan beliau:

ما المسؤول عنها بأعلم من السائل

“Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya. (yakni keduanya sama-sama tidak mengetahui.)”  HR. Muslim

Bahkan Israfil -malaikat peniup sangkakala yang dengan tiupannya kiamat akan ditegakkan- pun tidak mengetahui kapan Allah perintahkan dia untuk meniupkan sangkakala. Isrofil terus mengarahkan pandangannya ke Al-‘Arsy –tidak berkedip sedikitpun- menanti perintah Allah untuk meniupkannya.  Rasulullah saw bersabda:

إن طرف صاحب الصور مذ وكل به مستعد نحو العرش مخافة أن يؤمر قبل أن يرتد إليه طرفه كأن عينيه كوكبان دريان

Sesungguhnya pandangan malaikat peniup sangkakala selalu tertuju ke arah Arsy semenjak Allah tugaskan, khawatir andai ia diperintah meniupkannya sebelum mengedipkan keduanya, seolah-olah matanya dua bintang yang memancar.[1]

Dengan demikian, sebelum kita memasuki pembahasan alam Jin, kita ingatkan kembali bahwa kita tidak bisa berbicara –dan tidak boleh berbicara- alam jin sebagai salah satu alam ghaib kecuali dengan landasan yang jelas, Al-Quran dan As-Sunnah. Allahua’lam.

[1] Diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/603) Ibnu Hajar menghasankannya dalam Al-Fath (11/447) dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3/65 no.1078)