Arsip

Posts Tagged ‘wudhu dengan air kopi’

Tentang Air

Admin Pustaka Ibnul Jazari

Air adalah alat untuk bersuci sehingga dalam kitab-kitab fikih pembahasan Air menjadi materi awal pembahasan thoharoh. Berikut ini beberapa kesimpulan penting terkait dengan Air.

  1. Air mutlak, hukumnya Suci dan mensucikan (thohur).
  2. Air mutlak adalah air yang belum berubah dari kondisi asli penciptaannya, misalnya: air hujan, air sungai, air sumur, air mata air, air danau dan air laut.
  3. Air laut termasuk air mutlak, berdasarkan sabda Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam: “Huwa Ath-Thohuru Mauhu Al-hillu Maitatuhu.” Laut itu airnya thohur (suci dan mensucikan) dan halal bangkainya.
  4. Air mutlak jika kemasukan najis dan merubah sifat warna, rasa atau baunya, air tersebut berubah menjadi Air najis. Tidak boleh digunakan untuk bersuci.
  5. Air mutlak jika kemasukan najis, selama tidak berubah bau, rasa atau warna. Tidak keluar dari sifat suci dan mensucikan. Tanpa membedakan apakah air tersebut kurang dari dua kullah atau lebih – menurut pendapat yang rajih.
  6. Sebagian ulama mengatakan jika kurang dari 2 kullah tetap dihukumi air najis walaupun tidak berubah sifatnya, namun ini marjuh]
  7. Air mutlak yang bercampur dengan barang yang suci seperti adonan roti dll, selama masih dikatakan air (Air mutlak) hukumnya suci dan mensucikan
  8. Jika barang suci yang bercampur dengan air menyebabkan keluarnya air tersebut dari sebutan air, misalnya menjadi susu, kopi. atau yang lainnya. Tidak lagi digunakan untuk berthoharoh walaupun suci.
  9. Air yang berubah sifatnya dengan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan seperti tanah pada aliran air sungai, atau berubah karena daun-daun yang berjatuhan pada danau, atau berubah hijau karena lumut yang tumbuh di air kolam, air ini masih tetap disebut air mutlak.

Beberapa hal terkait dengan hukum air yang dimasuki orang yang mandi di dalamnya.

  1. Dilarang mandi masuk kedalam air yang menggenang, yang diperbolehkan adalah dengan menciduknya.
  2. Dilarang kencing di air yang menggenang.
  3. Dilarang menggabungkan antara mandi dan kencing dalam air yang menggenang.
  4. Larangan-larangan di atas bermakna haram. [Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan-larangan ini bersifat makruh, dan ini marjuh]
  5. Mandi dan kencing dalam air yang menggenang; jika berubah bau, warna dan rasa hokum airnya najis, Jika tidak berubah tetap dihukumi air mutlak, adapun jika berubah maka airnya najis.
  6. Air sisa mandi janabah istri atau suami boleh digunakan. Adapun larangan-larangan yang ada dalam hadits, maknanya karohah (makruh) dan bukan harom.